Kamis, 18 Februari 2010

BIBIT DARI SESUATU......?????


Diriwayatkan bahwa Kaisar Romawi menulis surat kepada Ma’awiyah binAbi Sufyan yang dibawa oleh seorang utusan. Isi surat tersebut:”Beritahukan kepada saya tentang suatu yang tidak ada kiblatnya(pengimaman), tentang yang tidak punya ayah, tidak punya keluarga(ibu-bapak) dan orang yang dibawa-bawa oleh kuburannya. Juga tentangtiga makhluk yang tidak dicipta dalam rahim, tentang sesuatu,setengahnya dan yang tidak terbilang. Kirimlah kepadaku dalam botolsuatu bibit (sumber dari segala sesuatu)”.

Ma’awiyah r.a. kemudian mengirimkan surat dan botol tersebut kepadaAbdullah Ibnu Abbas r.a., pakar dan tokoh ulama fikih agar menjawabsurat itu.

Ibnu Abbas r.a. menjawab sebagai berikut: “Yang tidak punya kiblat(pengimaman) adalah Ka’bah. Yang tidak punya Ayah adalah Isa as. Yangtidak punya keluarga (ayah-ibu) ialah Adam as. Yang dibwa-bawa olehkuburannya ialah Yunus as yang ditelan oleh ikan hiu.

Adapaun tiga makhluk yang tidak dicipta dalam rahim ialah domba NabiIbrahim as., unta betina Nabi Saleh as., dan ular Nabi Musa as..

Adapun ’sesuatu’ itu ialah orang berakal yang menggunakan akalnya.Setengah (separo) dari sesuatu ialah orang yg tidak berakal tetapimengikuti pendapat orang-orang yang berakal. Adapun yang tidakterbilang (apa-apa) ialah orang yang tidak berakal dan tidak maumengikuti pikiran orang-orang yang berakal.

Kemudian, beliau mengisi botol sehingga penuh dengan air dan berkata,”Air adalah bibit (sumber) dari segala sesuatu.”

Jawaban surat Ma’awiyah dikirimkan kepada Kaisar yang menanggapinyadengan penuh kekaguman.

MUHAMMAD DENGAN PENGEMIS YAHUDI....

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Sumber: 1001 Kisah Teladan .

Rabu, 10 Februari 2010

Sebuah Tanda di Dahi Kita....


Sejak aku kecil ibuku selalu bercerita tentang sebuah tanda di dahi Kita, manusia-manusia ini. Sebuah tanda yang indahnya tak terlukiskan kata, namun kekuatannya sangat dashyat luar biasa, melebihi badai manapun.



Tanda itu terpahat sedemikian sehingga tidak akan terhapuskan oleh apapun. Oleh siapapun. Kenistaan, kenajisan, kegelapan yang tergelap, bahkan api neraka tak berdaya menghapuskannya.



Sayangnya, tanda –yang hanya dapat dilihat dalam sebuah cermin ajaib itu- terlalu sering terlupakan oleh pemiliknya. Entah karena sang pemilik jarang bercermin di cermin ajaib itu atau karena memang begitu termakan oleh rasa takut oleh hantu-hantu dunia, ataupun karena sang pemiliknya tidak sungguh-sungguh mempercayai keberadaan tanda itu. Kendatipun demikian tanda itu tetap disana, di dahi mereka.



Seandainya saja mereka percaya akan tanda itu, maka dengan segera mereka akan bangkit Dan dengan gagah perkasa memukul mundur semua lawan-lawan kehidupan mereka. Walaupun tubuh mereka sudah teronggok dalam rupa tulang-belulang, bahkan dalam keadaan demikian sekalipun, urat Dan daging akan tumbuh Dan nafas kehidupan akan kembali menghidupkan mereka.



Tanda itu adalah tanda kekuasaan, yang membuat alam semesta bekerja bersama-sama dalam keharmonian mendukung Kita. Sebuah tanda yang menjadi jaminan kekal bahwa tidak Ada tantangan, kesulitan, masalah apapun yang tidak akan bertekuk lutut dikaki Kita, sepanjang Kita punya keberanian Dan ketetapan hati melawannya. Tanda itu juga yang menjamin setinggi apapun angan-angan yang ingin Kita raih-selama itu mulia- pasti akan tercapai, sepanjang Kita mempercayainya. Sebuah janji illahi yang berbicara tentang kekuatan, pemeliharaan, penyertaan Dan kesetiaan.



Tanda itu adalah : “Dicintai-NYA”



Kata ibuku, tanda inilah yang seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk takut kepada DIA, yang menuliskan tanda itu. Karena ketika manusia sungguh-sungguh takut pada-NYA, maka dunia ini tidak akan sanggup lagi menakut-nakutinya Dan manusia akan memenuhi takdir mereka, sebagai Anak-Anak Raja yang tidak terkalahkan oleh apapun.



Tetapi jika Kita menafikan keberadaan tanda di dahi Kita itu, maka dunia ini dengan mudah akan memperbudak Kita. Kemudian kehidupan akan kehilangan keindahannya. Lalu Anak-Anak Raja, para Bangsawan yang seharusnya berjalan dalam iring-iringan kemuliaan itu, akan berubah wujudnya menjadi mahluk-mahluk menyedihkan yang berlarian kesana-kemari, dikuasai kebimbangan, dikejar rasa putus ASA, dirasuki ketakutan, tanpa arah, tanpa sebuah kepastian hidup.



Seandainya saja Kita mengetahui betapa mulianya diri ini dicipta, Dan betapa Kita sangat dicintai-NYA, maka setiap saat hati Kita akan berpesta pora.(***)